Wagub Sandiaga Ajak Warga Jakarta Mulai Tinggalkan Pemakaian Air Tanah dan Beralih ke Perpipaan

sumber: http://ppid.jakarta.go.id/view-pers/93-SP-HMS-03-2018

Penggunaan air tanah secara berlebihan dan terus-menerus dapat menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan lingkungan. Contoh nyata yang terjadi beberapa tahun terakhir adalah penurunan kuantitas dan kualitas air tanah, serta amblesnya tanah yang ditandai dengan ruas jalan ambles ataupun miringnya gedung-gedung bertingkat. Menyikapi hal ini, Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Sandiaga Uno mengajak masyarakat, khususnya warga Jakarta, untuk mulai meninggalkan pemakaian air tanah dan beralih ke perpipaan (air PAM). Sikap ini disampaikan Wagub Sandiaga di rumah kediamannya, di Kebayoran, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/3).

Wagub Sandiaga menyampaikan, sebagai upaya awal, warga dapat mulai meninggalkan penggunaan air tanah di rumah atau tempat tinggal masing-masing. Wagub Sandiaga pun telah menutup sumur air tanah dan beralih ke air perpipaan untuk rumah kediamannya. Selain memang kualitas air tanah yang sudah buruk, kepedulian akan Land Subsidence menjadi pencetus ajakan ini. Mari kita berhenti memakai air tanah secara berlebihan dan mulailah menggunakan air perpipaan, ujar Wagub Sandiaga.

Direktur Utama PAM Jaya, Erlan Hidayat menyatakan bahwa penutupan sumur air tanah yang dilakukan oleh Wagub Sandiaga diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk tidak lagi menggunakan air tanah. “PAM Jaya juga siap untuk melayani warga yang akan beralih menggunakan air PAM” ujar Erlan.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, hanya 4,30 m³/detik imbuhan air hujan yang masuk ke dalam tanah. Angka ini tidak sebanding dengan pengambilan air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta sebesar 13,75 m³/detik. Total jumlah air tanah dangkal (aquifer tidak tertekan) maksimum yang dapat diambil adalah sebesar 36,17 juta m³/tahun. Pengambilan air tanah dangkal yang berlebihan menyebabkan terjadinya intrusi air laut  dan  penurunan  permukaan  tanah.

Pemanfatan  sumber daya air tanah di DKI Jakarta  sudah  melebihi  daya  dukungnya.  Hal ini  disebabkan  belum terjangkaunya  cakupan  layanan  jaringan  air  perpipaan  dan  belum  terpenuhinya kualitas  maupun  kontinuitas  ketersediaan  air  oleh  penyelenggara  penyediaan  air perkotaan DKI Jakarta.

Selain itu, terbatasnya  sumber daya  air tawar  di daratan  pulau dan bertambahnya  penduduk  di  pulau  menyebabkan peningkatan konsumsi  air  tanah.  Apabila  penyedotan  air  tanah  telah  melebihi  kapasitas  air tanah untuk pulih maka akan terjadi intrusi air laut hingga sumber air setempat akan menjadi payau  hingga  asin.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta pada Desember 2017, total pelanggan air tanah sebanyak 4.377 dengan perkiraan pemanfaatan air tanah sebesar 603.225 m³/bulan atau 7.238.700 m³/ tahun. Untuk diketahui pula, cakupan pelayanan air bersih mitra kerja PDAM baru mencapai 577.109 juta m³/tahun (60,27%), dengan pelanggan air tanah yang mengonsumsi air sebanyak 8,850 juta m³/tahun. Perkiraan kebutuhan air bersih pada 2030 adalah sebesar 1.032,6 juta m³/tahun (Dokumen RPPLH 2015).

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengendalikan pemakaian air tanah agar lingkungan dapat tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.

Share this post