Beranda

Menu

Pilih menu navigasi

Berita

Tekan Pengiriman ke Darat, Kepulauan Seribu Genjot Pengelolaan Sampah Organik

Kamis, 26 Maret 2026 | 770 views

Di utara Jakarta, terbentang gugusan pulau yang dikenal sebagai Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Pulau-pulau ini terbagi menjadi dua bagian: wilayah selatan yang lebih dekat dengan hiruk pikuk ibu kota, dan wilayah utara yang lebih jauh, dengan suasana yang lebih tenang dan alami.
 

Di balik keindahannya, kehidupan masyarakat Kepulauan Seribu sangat lekat dengan laut. Setiap hari, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari hasil laut—menangkap ikan, membudidayakan rumput laut, hingga mengembangkan ikan hias. Laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari keseharian mereka.
 

Namun, di tengah kehidupan yang bergantung pada alam tersebut, muncul tantangan yang tidak sederhana: sampah.
 

Dengan jumlah penduduk sekitar 30 ribu jiwa pada tahun 2024, Kepulauan Seribu menghasilkan sekitar 22 ton sampah setiap harinya. Tanpa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di wilayah ini, sampah harus menempuh perjalanan panjang—dikumpulkan di setiap pulau, diangkut menggunakan kapal menuju Pelabuhan Green Bay, lalu dilanjutkan dengan truk ke TPA Bantar Gebang di Bekasi.
 

Perjalanan panjang sampah ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah di wilayah kepulauan membutuhkan solusi yang tidak biasa.
 

Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu pun mengambil langkah: bagaimana jika sampah diselesaikan di tempat asalnya?
 

Upaya itu mulai terlihat nyata. Fasilitas TPS 3R dibangun di Pulau Tidung, Pulau Panggang, dan Pulau Sabira, lengkap dengan alat pemilah dan pemusnah sampah. Di pulau lain seperti Untung Jawa, Pramuka, dan Harapan, fasilitas pemilahan otomatis juga telah hadir untuk mendukung pengelolaan yang lebih baik.
 

Dari seluruh timbulan sampah yang ada, lebih dari separuhnya adalah sampah organik—sisa makanan, daun, dan bahan alami lain yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah kembali.
 

Dari sinilah sebuah harapan tumbuh.
 

Pada 26–27 Maret 2026, sebanyak 22 orang berkumpul di Pulau Tidung. Mereka datang dari berbagai pulau—Untung Jawa, Pari, Tidung, Pramuka, Panggang, dan Harapan. Sebagian besar dari mereka adalah para PJLP yang sehari-hari bergelut dengan pengelolaan lingkungan dan urban farming.
 

Dalam kegiatan Belajar Bersama Pengelolaan Sampah Organik melalui Metode Pengomposan, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga berbagi pengalaman, tantangan, dan harapan.
 

Di tengah diskusi dan praktik, satu hal menjadi semakin jelas: sampah organik bukanlah akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari sesuatu yang baru.
 

Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat kembali menjadi kompos—memberi nutrisi bagi tanah, mendukung urban farming, dan pada akhirnya kembali ke masyarakat dalam bentuk manfaat nyata.
 

Langkah kecil ini membawa mimpi yang lebih besar.
 

Ke depan, Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu menargetkan agar 100 persen sampah organik dapat terolah di wilayahnya sendiri. Bukan lagi menjadi beban yang harus dikirim jauh, tetapi menjadi sumber daya yang memberi nilai bagi warga.
 

Dari laut mereka hidup.

Dari sampah, mereka membangun masa depan.