JAKARTA – Melihat banyak peserta seleksi yang lebih muda, Testo Gumilar (60) sempat meragukan peluangnya. Ia ingin kembali bekerja, memperoleh penghasilan, dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, pada usia 60 tahun, ia bertanya-tanya apakah kesempatan itu masih terbuka.
“Awalnya saya pesimis bisa diterima karena melihat banyak anak muda yang ikut. Saya berpikir, di usia 60 tahun apakah masih ada kesempatan? Tapi alhamdulillah, melalui program ini saya mendapat kesempatan tanpa melihat usia,” ujarnya.
Warga Cibubur, Jakarta Timur, itu dinyatakan lolos seleksi Program Padat Karya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Ia akan bertugas sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.
Untuk pekerjaan tersebut, Testo membawa bekal pengalaman dari lingkungan tempat tinggalnya. Sejak 2024, ia aktif dalam kegiatan Bank Sampah Asri Berseri di RW 11, Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur. Keterlibatannya kemudian mengantarkannya dipercaya menjadi ketua bank sampah.
Dari kegiatan bersama warga, Testo semakin mengenal pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah. Ia ingin lebih banyak orang memahami bahwa kebiasaan mengurus sampah dapat dimulai dari rumah masing-masing. Karena itu, pekerjaan sebagai pemilah sampah terasa dekat dengan pengalaman dan minat yang selama ini ia tekuni.
Kesempatan tersebut juga datang ketika Testo masih memikul tanggung jawab sebagai penopang ekonomi keluarga. Istrinya merupakan ibu rumah tangga, sementara anaknya telah menyelesaikan pendidikan dan sedang mencari pekerjaan. Setelah tidak lagi bekerja, Testo tetap berupaya mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Alhamdulillah, keluarga mendukung. Karena saya sudah tidak bekerja, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Dapur juga harus tetap ngebul. Jadi, saya ingin mendapatkan penghasilan yang halal sekaligus sesuai dengan passion saya di bidang lingkungan,” tuturnya.
Penghasilan yang kelak diterimanya sudah memiliki tujuan: memenuhi kebutuhan makan, membayar listrik, dan mencukupi keperluan sehari-hari. Hal-hal itulah yang membuat kesempatan kembali bekerja terasa berarti bagi Testo dan keluarganya.
Program Padat Karya yang dijalankan DLH menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung untuk membuka kesempatan kerja dengan upah harian bagi warga. Melalui kegiatan pengelolaan sampah, peserta dapat memperoleh penghasilan sekaligus mengambil bagian dalam merawat lingkungan kota.
Testo berharap manfaat program ini juga tumbuh melalui pengetahuan yang dibawa para peserta ke lingkungan tempat tinggalnya. Ia ingin semakin banyak warga memperoleh kesempatan ikut serta, termasuk mereka yang belum mengenal cara memilah dan mengolah sampah.
“Warga yang sebelumnya belum tahu cara memilah dan mengolah sampah bisa belajar, lalu menularkan pengetahuannya kepada orang lain,” ungkapnya.
Bagi Testo, pengalaman di bank sampah kini menemukan tempat untuk diteruskan. Ada kebutuhan keluarga yang ingin dipenuhi, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan yang ingin tetap ia jalani.
Keraguan saat mengikuti seleksi pun berganti dengan rasa syukur atas kesempatan yang diperolehnya. Kepada warga seusianya yang masih ingin bekerja dan aktif berkegiatan, Testo menitipkan pesan.
“Pesan saya untuk Bapak dan Ibu yang seusia saya, jangan cepat putus asa. Di Pemda DKI ada program-program yang bisa dimanfaatkan, salah satunya Padat Karya ini. Alhamdulillah, masih ada perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup bagi warga yang ingin tetap beraktivitas dan membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.