Beranda

Menu

Pilih menu navigasi

Berita
Preview Preview Preview Preview

Pemprov DKI Kembangkan POO Ciangir untuk Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 | 291 views

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengembangkan Pusat Olah Organik (POO) Ciangir, Kabupaten Tangerang, sebagai kawasan terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan Jakarta. Pengembangan kawasan ini menghubungkan sektor peternakan, perikanan, pertanian, dan budidaya maggot guna mendukung ketersediaan pangan secara berkelanjutan.

 

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan kawasan Ciangir akan menjadi salah satu penopang ketahanan pangan melalui pengembangan produksi pangan yang terintegrasi dan saling mendukung.

 

“Ciangir akan dikembangkan sebagai kawasan peternakan terintegrasi dan Pusat Olah Organik untuk memperkuat ketahanan pangan. Berbagai kegiatan di dalamnya akan saling terhubung sehingga mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujarnya.

 

Pramono menjelaskan, kawasan Ciangir memiliki luas sekitar 100 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 40 hektare dimanfaatkan oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan 20 hektare oleh Perumda Dharma Jaya.

 

Kawasan tersebut akan dikembangkan untuk mendukung peternakan sapi, bebek, dan ayam, budidaya ikan, pengembangan maggot Black Soldier Fly (BSF), serta kegiatan pertanian. Integrasi berbagai sektor itu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat rantai pasok pangan bagi masyarakat Jakarta dan Banten.

 

Menurut Pramono, pengembangan kawasan Ciangir juga merupakan wujud kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Banten. Kerja sama antardaerah tersebut akan terus diperkuat agar manfaat pengembangan kawasan dapat dirasakan secara lebih luas.

 

Pemprov DKI juga mendorong pelibatan tenaga kerja lokal dalam pengelolaan kawasan. Dengan demikian, POO Ciangir tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

 

Gubernur Banten, Andra Soni, mengapresiasi kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Banten dalam pengembangan kawasan ketahanan pangan di Ciangir.

 

Menurutnya, pengembangan kawasan peternakan terintegrasi dan POO Ciangir dapat memperkuat ketersediaan pangan bagi masyarakat di kedua wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui pelibatan masyarakat lokal.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menuturkan POO Ciangir akan dikembangkan secara bertahap. Pada tahap awal, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan bahan organik hingga 50 ton per hari.

 

Kapasitas tersebut selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 200 ton per hari hingga mencapai 1.000 ton per hari setelah kawasan dikembangkan menjadi POO Ultimate.

 

“Pada fase pertama, kami mengembangkan biokonversi maggot Black Soldier Fly, budidaya ikan dan ayam, serta pemanfaatan hasil pengolahan organik untuk mendukung kegiatan pertanian. Seluruh proses tersebut dirancang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung,” ungkapnya.

 

Maggot BSF dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif bagi ikan dan ayam. Sementara itu, hasil samping pengolahan berupa kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung produktivitas pertanian.

 

Hasil budidaya dan produk turunannya juga dapat dipasarkan sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Melalui pendekatan tersebut, setiap proses di kawasan Ciangir diharapkan menghasilkan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

 

Dudi optimistis pengembangan POO Ciangir dapat menjadi model kawasan ketahanan pangan yang terintegrasi. Kolaborasi antara peternakan, perikanan, pertanian, dan pengolahan organik diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketersediaan pangan.

 

“POO Ciangir akan dikembangkan sebagai ekosistem yang menghubungkan pengolahan organik dengan produksi pangan. Kami berharap kawasan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ketahanan pangan Jakarta dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya.