Beranda

Menu

Pilih menu navigasi

Berita
Preview Preview Preview Preview

Pramono Tinjau Saringan Sampah TB Simatupang, Perkuat Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir

Senin, 05 Oktober 2026 | 55 views

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau fasilitas Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS), Jakarta Selatan, Senin (5/10). Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta menangani sampah sejak dari hulu agar dapat ditangani lebih cepat sebelum terbawa aliran Sungai Ciliwung menuju kawasan hilir.

 

SSTBS tidak hanya berfungsi menahan sampah yang terbawa sungai. Sampah yang tertangkap selanjutnya dipilah dan diolah sesuai jenis dan karakteristiknya menjadi kompos, woodchip, maupun material yang dapat dimanfaatkan kembali.

 

Gubernur Pramono mengatakan, penanganan sampah sejak dari hulu penting untuk mengurangi beban penanganan di kawasan hilir, termasuk Pintu Air Manggarai. “Dari Sungai Ciliwung inilah kemudian hampir 30 persen sampah bisa diambil, diolah di sini, sebagian besar sampah organik,” ujarnya.

 

Menurut Pramono, pengelolaan sampah Jakarta harus dilakukan secara menyeluruh melalui berbagai fasilitas yang saling melengkapi, mulai dari SSTBS, TPS 3R, RDF Plant Rorotan, RDF Bantargebang, hingga pengembangan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

 

“Kalau RDF Rorotan, RDF Bantargebang, PSEL, kemudian TPS 3R berjalan dengan baik dan tempat ini juga bisa mengurangi beban sampah ke Pintu Air Manggarai,” tutur Pramono.

 

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah Jakarta, dari pola kumpul-angkut-buangmenuju pilah-angkut-olah, sehingga semakin banyak sampah dapat diselesaikan dan dimanfaatkan sebelum menjadi residu yang harus dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

 

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, sejak Agustus 2023 hingga 12 September 2026, sebanyak 32.677 ton sampah telah ditangani di SSTBS, atau rata-rata sekitar 30,2 ton per hari. Sampah tersebut berasal dari aliran Sungai Ciliwung serta berbagai kegiatan pelayanan persampahan lainnya.

 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.920 ton telah berhasil diolah, terdiri atas 5.645 ton kompos dan 12.275 ton woodchip. Hasil pengolahan telah dimanfaatkan antara lain oleh masyarakat, sekolah, kelurahan, kelompok tani, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, TNI, POO Ciangir, POO Ciracas, hingga sektor industri.

 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menjelaskan, SSTBS menjadi salah satu titik penting penanganan sampah badan air, terutama ketika debit Sungai Ciliwung meningkat pada musim penghujan. “Sampah kita tahan dan tangani lebih awal. Jadi bukan menunggu sampah menumpuk di hilir baru kemudian dibersihkan,” kata Dudi.

 

Menurutnya, penanganan sampah badan air sekaligus membantu menjaga kelancaran aliran sungai dan mendukung sistem pengendalian banjir. SSTBS sejak awal dibangun untuk menahan sampah dari hulu Sungai Ciliwung agar tidak terbawa lebih jauh menuju Pintu Air Manggarai.

 

Selain sampah Sungai Ciliwung, SSTBS juga menangani bulky waste atau sampah berukuran besar serta hasil pemangkasan pohon. Sampah melalui proses penyaringan, pemilahan dan pencacahan sebelum diolah lebih lanjut menjadi kompos, woodchip, maupun bahan baku RDF.

 

“Prinsipnya, sampah yang masih memiliki nilai manfaat jangan langsung menjadi residu. Semakin banyak yang dapat kita pilah, olah, dan manfaatkan kembali, semakin kecil beban yang harus dikirim ke TPST Bantargebang,” ujar Dudi.

 

Ke depan, Pemprov DKI telah merencanakan pengembangan fasilitas penyaringan sampah pada 11 hulu sungai lainnya di Jakarta serta terus membuka kolaborasi dengan dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan pemanfaatan hasil pengolahan.

 

“Yang kita bangun bukan hanya saringan sampah, tetapi sistem pengelolaan yang lebih utuh. Sampah ditahan lebih awal, ditangani lebih cepat, diolah dan dimanfaatkan kembali. Dengan begitu, residu yang akhirnya harus dibuang dapat terus kita kurangi,” pungkas Dudi.