JAKARTA - Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo terkait pengelolaan dan penanganan sampah dari hulu ke hilir, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sudah menjalankan pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pengelolaan sampah Jakarta sudah sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto dengan mengelola sampah dari hulu hingga hilir.
DLH Jakarta sudah melakukan pengelolaan sampah di hulu melalui pengelolaan sampah di lingkup RW, menggerakan sirkular ekonomi melalui bank sampah, membuat program Jakarta Recycle Center di Pesanggrahan, serta pengelolaan sampah pada kawasan dan perusahaan, termasuk Horeka (Hotel, Restoran dan Kafe) dan pusat perbelanjaan.
“Untuk pengelolaan sampah di tengah, kami sudah melakukan pengelolaan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan TPS3R (Reuse, Reduce, Recycle), pengelolaan sampah di badan air serta penyelenggaraan fasilitas pengolahan sampah pengolahan sampah di RDF Plant Rorotan,” ujar Asep.
Sedangkan pada tahap hilir, pihaknya sudah mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih, melakukan pengolahan sampah lama dan sampah baru pada fasilitas Landfill Mining dan RDF Plant di TPST Bantargebang dan pemeliharaan sarana serta prasarana TPST.
“Bukan hanya di PLTSa Merah Putih tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif, di RDF Plant pun sampah yang sudah menjadi RDF, selanjutnya dijual kepada industri semen sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara. DLH DKI Jakarta memiliki suatu Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang telah menjalin kerja sama dengan dua industri semen, yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Besar harapan upaya ini bisa dapat membantu mengurangi dampak lingkungan yang ada,” tambahnya.
Dorong Sampah Menjadi Bahan Bakar Alternatif
Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong sampah menjadi bahan bakar alternatif melalui pengolahan di RDF Plant TPST Bantargebang, RDF Plant Rorotan dan PLTSa Merah Putih. Hal tersebut ia sampaikan pada saat tinjauan ke TPST Bantargebang bersama Menko PMK Pratikno, Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Rabu, (19/3).
Menurutnya, dengan adanya RDF Plant TPST Bantargebang, RDF Plant Rorotan dan PLTSa Merah Putih menjadi salah satu langkah baik pengelolaan sampah menjadi bahan bakar, serta bahan baku alternatif terutama semen yang bernilai ekonomi sirkular.
“Tentu adanya RDF ini menjadi sebuah kemajuan, namun itu saja tidak cukup, Pemerintah saat ini tengah mendorong pembangunan PLTSa. Untuk mempermudah pemerintah melebur tiga Peraturan Presiden (Perpres) menjadi satu aturan terkait pengelolaan sampah dengan elektrifikasi,” ujarnya.
Zulhas pun menyarankan penyesuaian tipping fee dan pengembangan teknologi incinerator untuk mengurangi volume sampah secara signifikan. Incinerator sendiri merupakan alat untuk membakar sampah pada suhu yang sangat tinggi dalam skala besar.
Pada kesempatan yang sama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan adanya RDF ini sangat bermanfaat bagi warga Jakarta, apalagi Jakarta menghasilkan 8000 ton sampah perhari. RDF Plant TPST Bantargebang memiliki kapasitas pengolahan sampah sebanyak 2.000 ton per hari. Sedangkan pengolahan sampah di RDF Plant Rorotan sebanyak 2.500 ton perhari.
“Karena dengan adanya RDF saja tidak cukup, jika incinerator harganya ada penyesuaian dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, tentu ini bisa menjadi jalan keluar yang sangat baik bagi persoalan sampah, bukan hanya di Jakarta saja yang akan merasakannya, tetapi di seluruh Indonesia juga,” ungkapnya.
Mengingat kondisi TPST Bantargebang yang akan segera mencapai kapasitas maksimumnya, Pram menyebutkan Pemprov DKI Jakarta terbuka terhadap berbagai opsi teknologi pengolahan sampah yang dapat terbangun dan beroperasi dalam waktu yang tidak terlalu lama, serta dengan biaya pembangunan yang relatif terjangkau.